For everything has its own first time

10 Oktober 2014

Memulai kembali kebiasaan lama yang baik, ternyata tidaklah mudah. Kolom ini seharusnya terbit pada 6 Oktober 2014. Karena sesuatu dan berbagai hal, terpaksa ditunda dan malam ini, saya memaksakan diri memulai.

Menulis bukanlah hal yang sulit bagi segelintir orang, termasuk saya. Selain pekerjaan, menulis ada versi lain saya untuk menghela nafas panjang. Menulis melegakan, bahkan mampu menguras air mata dan entah kenapa saya menjadi bisa begitu melankolis.

Seminggu belakangan adalah gerbang pintu saya untuk pengalaman yang baru. Saya tak lagi wajib meliput, sebaliknya, saya berada di kantor dan mendapat jabatan. Pada dasarnya, berada di lapangan adalah kesukacitaan tersendiri tapi berada di kantor dan memiliki jabatan adalah penghargaan dan pencapaian prestasi. Saya bersyukur untuk ini.

Berbicara tentang pekerjaan lapangan, saya persis 3,5 tahun meliput di KPK. Tempat ini membuka mata saya lebar-lebar tentang negara ini. Di tempat ini pula saya mendapat passion untuk mendalami hukum. Alhasil, saya pun menyandang gelar Master Hukum setelah berkutat 2 tahun di perkuliahan Universitas Indonesia.

Pos liputan saya ini bukan sekadar pos. Selain menjadi pemercik passion, dia adalah rumah kedua saya. Sampai-sampai muncul jargon, kalau mau cari Dea, di KPK aja. Di tempat ini saya menemukan kawan-kawan yang unik, terbaik dalam pemberitaan. Konon, dan ini adalah fakta bagi saya, wartawan yang ditempatkan di KPK adalah yang terbaik di medianya masing-masing. Karir mereka, rata-rata, menjadi wartawan istana setelah beberapa tahun di KPK. Beberapa, special case saya menyebutnya, malah menjadi editor. Termasuk saya.

Menjalani hari-hari sebagai orang kantoran bukan hal mudah. Bangun pagi, berdesakan di commuter line, berdiri di Miniarta. Selama 4 tahun saya menjadi wartawan, hal itu jarang saya alami. Kantor pun tempat bersaing, baik itu dalam ring positif maupun negatif. Dan saya suka persaingan.

Persaingan membuat otak bekerja, riang, dan cenderung tidak puas. Persaingan mengasah kedewasaan. Persaingan jika dipandang positif adalah hal yang layak dihadapi. Keluarlah dari zona nyaman dan saat itulah kau tahu kemampuan dirimu. Dunia pun terkesima.

Sebenarnya tulisan ini agak acak angle-nya. Namun, memaksakan diri untuk menulis di waktu senggang adalah penting daripada menghabiskan daya baterai untuk hanya memuat ulang media-media sosial favorit. Semoga ini menjadi awal yang baik.

Commuter Line Jakarta-Bogor
20:41 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s