Impian yang (bakal) jadi kenyataan

10688470_10205367389774280_5028246430957196087_o

Sewaktu masih sekolah dulu, saya punya banyak cita-cita. Saya bercita-cita masuk ke Universitas Indonesia, jurusan Komunikasi. Saya bercita-cita, setelah 5 tahun kerja, saya menjadi junior editor (bahasa pilihan yang saya pakai karena tidak tahu jenjang karir di dunia massa). Menjelang lulus sarjana, saya bercita-cita kuliah S2 setelah bekerja minimal 2 tahun. Pilihan jurusannya, kalau tidak Politik, ya Hukum. Kini, cita-cita tersebut telah saya peroleh.

Saya berhasil lulus dari Komunikasi Universitas Indonesia. Bekerja sebagai wartawan dan setelah 5 tahun lulus, tahun 2014, saya diangkat sebagai asisten redaktur. Dalam perjalanan waktu itu, saya berhasil masuk program magister Hukum Tata Negara UI tahun ajaran 2012-2014. Impian saya sebenarnya kuliah di luar negeri karena mendapat beasiswa. Tapi nyatanya, di dalam negeri saja dan merogoh kocek sendiri.

Impian-impian besar yang Tuhan sediakan untuk saya. Dan saya masih punya impian lain yang tak kalah besarnya. Untuk satu impian itu, saya masih ragu untuk menetapkan hati. Menikah.

Ketika menoleh ke belakang, merenungkan singkat bagaimana kasih Tuhan yang besar, yang memberikan apa yang saya minta. Rasanya, tidak mungkin tidak Tuhan tidak memberikan lagi apa yang saya impikan. Saya tahu betul bagaimana kuatnya impian-impian saya ini dan akhirnya terwujud. Tapi untuk impian yang satu itu, entah mengapa belum mengakar seperti halnya saya yang ketika SMA menginginkan kuliah di UI dan menjadi junior editor setelah 5 tahun lulus.

Tiap kali memikirkan “that thing” hati ini gusar. Satu sisi hanya saya yang diharapkan menikah di tengah keluarga, dan meneruskan keturunan. Sisi lain, kebudayaan membuatnya amat menyebalkan, adalah umur. Saya tidak terlalu peduli dengan usia, meski rekomendasi kedokteran menyarankan untuk memiliki anak usia 25-35 tahun. Sedangkan saya 27, belum memiliki pasangan, bagaimana mau menikah dan memiliki anak?

Kata teman-teman sepantaran, menikah bukanlah hal mudah. Melihat apa yang terjadi pada orang tua saya, saya sepakat. Bahkan saya sangat sepakat, apa tidak lebih baik sendiri saja? Saya punya kakak yang cacat, lebih baik saya fokus mengurus dia daripada mengurus keluarga sendiri yang pasti tidak kalah repotnya. Tapi saya selalu sedih jika mengingat hal ini: orang tua yang makin renta dan mata mereka yang menyimpan asa.

Merekalah yang selalu membuat saya gusar saat memikirkan hal ini. Sekian banyak pria yang saya temui, tidak satupun yang kelihatan serius dengan saya. Sekian banyak pria yang mencoba serius, saya tidak memiliki hati untuk berkomitmen. Saya ingin bebas, bahkan ketika berkomitmen. Saya ingin kehidupan pribadi saya tidak berubah meski saya sudah menjadi satu dengan suami saya kelak. Tapi rasanya impian ini tak mungkin terwujud.

Ngomong-ngomong soal impian pernikahan, sebetulnya Tuhan sudah menjawab. Saya sejak dahulu berdoa agar kelak diberi suami yang takut akan Tuhan, punya jiwa melayani sesama dan gereja, rendah hati, pengalah, TIDAK MEROKOK, pintar, dan tentu saja baik hati. Seseorang memiliki hampir semua kriteria ini dan dia sudah menyatakan keseriusan. Entah mengapa, saya masih belum ingin. Lebih tepatnya, hati ini bergeming, tidak ada rasa, tidak ada euphoria, tidak ada percik-percik cinta yang mewarnai hari. Tidak tahu mengapa.

Pada akhirnya, kegusaran hati hanya bisa kita masing-masing sendiri yang menjawab. Melibatkan Tuhan akan lebih mudah menjalani jawaban-jawaban yang sudah ada. Pikiran yang kritis terkadang menjadi penghalang untuk meyakini pilihan-pilihan hati. Sampai muncul dalam pemikiran saya, mengapa Tuhan menganugerahkan pengenalan yang dalam kepadaNYA sekaligus kecerdasan yang cukup unggul. Ini mampu membuat saya atheis seketika, jika saya memilih kecerdasan sebagai tuhan. Ketika menjalani keduanya, tidak mudah, terkadang hati ini ingin taat pada kehendaknya. Namun, itu semua hilang ketika saya memikirkan untung ruginya, memikirkan manfaat-mudaratnya bagi masa depan.

Benarlah, pilihan untuk taat dan setia pada apa dan siapa itu adalah pilihan kita manusia. Seperti halnya saya memilih untuk menetapkan hati saat menuliskan impian-impian saya ketika masih SMA, seharusnya begitu pula saya sekarang untuk menetapkan impian-impian besar saya ke depan. Seperti halnya saya membawa dalam doa seluruh impian saya sejak SMA, begitu pulalah harusnya saya membawa dalam doa seluruh impian saya di usia yang dewasa ini. Manusia berubah, tapi tidaklah Allah.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s