Love is a losing game

Lagu ini berputar saat tulisan ini dibuat. Awalnya dari rasa gelisah yang menyeruak sore ini. Keresahan ini mendorong otak mengingat sebuah lagu yang pernah sangat saya suka. Tanpa dipaksa, air mata menetes. Ini pertama kalinya saat mendengar lagu ini. Tak pernah sebelumnya. Kerisauan ini hanya mampu terobati lewat tulisan.

Aku tidak pernah berniat untuk bermain dengan hati ataupun perasaan siapapun. Aku bukan perempuan seperti itu. Tapi seperti layaknya pelacur yang terjerumus keadaan yang memaksa, begitu pula lah aku. Aku bermain dengan hati. Seorang kawan berkata, kau tidak seperti itu, tapi kau menikmati bermain dengan perasaan orang. What’s the different, I’m asking myself. Nothing.

Ini bermula ketika rasa kecewa itu muncul, mungkin 3 tahun lalu. Kekecewaan yang ternyata belum pudar. Aku tersadar akan hal ini tepat sore ini. Aku masih berteriak-teriak marah ketika menceritakan bagaimana kami menikmati 15 bulan waktu bersama penuh kasih mesra. Aku masih terbata-bata saat menuturkan bagaimana perpisahan itu terjadi. Aku masih berkaca-kaca saat terjadi keheningan usai kisah itu selesai kukenang.

Aku tidak percaya lelaki, kataku.

Sampai kapan?

Tidak tahu, jawabku.

Kalau begitu, sampai kapan kau tetap berkonflik dengan dirimu sendiri?

Aku terdiam.

Pada akhirnya ini bukan soal bagaimana aku bisa kembali mempercayai laki-laki yang ingin mencintai sepenuh hati. Ini adalah tentang berdamai dengan diri sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s