Jurus Kungfu “Delapan Penjuru Mata Angin” Hakim Suwidya

“Sampai ke Tuhan pun saya akan banding. Sampai ke surga pun saya akan banding!” seru mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar kepada wartawan, 30 Juni 2014, usai divonis bersalah dalam perkara suap terkait pengurusan sengketa pilkada di MK. Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta menghukum pria kelahiran Kalimantan Barat itu dengan pidana penjara seumur hidup.Adalah Suwidya Abdullah yang memimpin persidangan tersebut. Pengacara Akil, Adardam Achyar, sampai menuduh ada kongkalikong antara majelis hakim dengan pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Asumsi itu ia lontarkan usai persidangan karena memperhatikan bahasa tubuh Suwidya yang tidak tenang, terutama karena tangannya tampak gemetaran saat membacakan surat putusan.

“Dia nggak tahu itu, saya nggak tidur semalaman. Sampai saya mau membaca itu, sampai kehabisan napas. Lelah, lelah sekali,” ucap Suwidya saat diwawancarai SH di ruang kerjanya di kompleks Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat dua pekan lalu.

Tanpa toga hakim, pria kelahiran 63 tahun lalu ini tampak kecil untuk pertanggungjawabannya yang besar. Sudah dua putusan tertinggi di negeri ini yang ia buat. Selain untuk Akil, ia adalah ketua majelis hakim yang menjatuhkan hukuman mati untuk Very Ilham Henyansyah alias Ryan Jombang, pembunuh mutilasi 11 manusia.

Berkarier sebagai hakim sejak awal 1990-an, Suwidya berprinsip semua orang tidak bersalah sebelum palu diketok tiga kali. Batinnya bekerja sama giatnya dengan keterampilannya di dunia hukum. Jiwanya menimbang secara kemanusiaan untuk membuat putusan yang tidak sekadar memenuhi rasa keadilan atau mencapai kepastian hukum.

“Setiap perkara sekecil apa pun membawa tekanan batin karena menyangkut manusia,” tutur Suwidya.

Namun, tak lantas ia iba hati pada banyak terdakwa yang ditemuinya di ruang sidang. Pengayaan terhadap undang-undang yang berlaku ditambah aspek sosiologis, psikologis, keadilan, keterbukaan dalam ruang sidang, dan bahkan keselamatan pelaku, korban, serta dirinya sendiri, menjadi pertimbangannya.

“Kalau saya istilahkan seperti kungfu itu, mundur selangkah, maju delapan penjuru angin. Semua aspek itu dipertimbangkan dan masuk dalam putusan itu. Semua aspek tersebut harus tercapai dalam satu putusan jadinya kan indah,” ujar Suwidya.

Ia melanjutkan, ini bukan pekerjaan mudah. Tidak semua hakim mampu melakukan ini. Dalam pengamatannya, ada rekan-rekan kerjanya membuat putusan pidana tanpa memperhatikan perasaan manusia yang terlibat. Namun yang penting, keadilan atau kepastian hukum tercapai.

Menurut Suwidya, hal tersebut tidak salah. Seburuk-buruknya hakim, ia sudah menjalankan sesuai kemampuan terbaiknya, semaksimal mungkin sesuai ilmu pengetahuan dan kapasitas religinya. Tidak bisa hakim dikatakan kejam. Karena hakim, katanya lagi, haruslah manusia yang religius meski dengan tingkatan yang tidak sama.

“Hakim itu tidak boleh dipuji karena memberikan hukuman berat. Tidak boleh juga dilecehkan karena kasihnya ringan. Itu semua sudah sesuai,” ucapnya sambil tersenyum.

Suwidya dan Ryan Jombang

Suwidya menjabat sebagai ketua PN Depok kala perkara Very Idham Henyansyah alias Ryan Jombang disidangkan. Kasus yang besar dan menarik perhatian publik itu harus ia tangani. Menurutnya, sudah menjadi kewajiban bagi pemimpin tertinggi di PN manapun untuk terlibat menangani perkara yang dinilai besar dari sisi kompleksitas dakwaan dan perhatian publik.

Dalam pemberitaan media massa, Ryan Jombang tidak hanya diceritakan sebagai sosok yang kejam karena memutilasi semua korbannya, 11 orang. Ia juga diberitakan memiliki orientasi seks menyimpang. Ryan pun dicap pembunuh berdarah dingin karena melakukan aksinya seorang diri dan menguburkan potongan tubuh beberapa korban di halaman belakang rumahnya di Jombang, Jawa Timur.

Suwidya tidak menyendengkan telinganya pada hal-hal yang sensasional itu. Ia fokus pada dakwaan yang diajukan ke dalam persidangan yaitu pembunuhan. Meski di matanya, ia pun memandang Ryan sebagai manusia yang bermasalah secara kejiwaan. Ia harus dihentikan tanpa harus merendahkan martabatnya sebagai manusia.

“Kasus Ryan, dia memang punya kecenderungan yang nggak bisa dihentikan karena jiwanya sudah terbentuk seperti itu. Kepada manusianya, kita tidak menghina, tapi tidak juga menghargai. Netral saja. Namun, pada perbuatannya kita hukum,” kata bapak tiga gadis ini.

Jurus kungfu mundur selangkah maju delapan penjuru mata angin pun ia terapkan saat menjelang pembacaan surat putusan. Meski dalam hatinya ia sudah menetapkan hati untuk menjatuhkan hukuman mati, Suwidya menemui Ryan untuk mengetahui kesiapannya menghadapi vonis sekaligus untuk menguatkan hati pria yang berperangai kemayu itu.

“Saya nanya juga, ‘gimana nih Mas Ryan, kamu sanggup nggak terima risiko perbuatan ini, terberat di dunia ini? (Ryan menjawab) Ya apa boleh buat, Pak’,” tutur Suwidya sedikit berbisik menirukan percakapan singkatnya dengan Ryan. “Nah, kadang-kadang pertanyaan itu terucap, kadang tersirat saja. Namun, kita sudah tahu jawabannya apa,” katanya.

Lima tahun lalu, tepatnya 6 April 2009, hari di mana Suwidya membacakan putusan hukuman mati untuk Ryan, Ryan tidak terima. Ia melakukan banding, lalu kasasi yang berujung pada kegagalan. Di tingkat terakhir, peninjauan kembali (PK) tahun 2012, Ryan kembali gagal. Ryan harus menghadapi kenyataan dieksekusi mati.

Setiap putusan yang dibuat hakim, Suwidya menjelaskan, haruslah diambil dalam kondisi yang prima dari segi ilmu pengetahuan dan nurani. Menunda persidangan karena hati tidak tenteram untuk mengambil keputusan adalah hal yang jamak dilakukan para hakim jelang sidang pembacaan vonis. Suwidya pun seperti itu.

Ia memilih mengambil waktu berdoa demi mendapatkan petunjuk ilahi. Menurut Suwidya, urusan vonis memvonis manusia bukan sekadar urusan duniawi, melainkan lebih berat kepada urusan surgawi.

“Itu karena ini tanggung jawab kita pada Tuhan. Kalau ini benar, Tuhan yang akan menyelamatkan. Bener menurut Tuhan, Tuhan akan selamatkan kita. Kalau salah menurut Tuhan, suatu saat akan ditanyakan, eh kamu dulu bikin vonisnya gimana, hehehe,” ujarnya.

Suwidya dan Akil Mochtar

Pernah mendapat penilaian sebagai hakim Tipikor terbaik se-Indonesia tidak lantas membuatnya pongah sehingga mampu menilai mana perkara yang mudah atau sulit ditangani. Meski saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua PN Jakarta Pusat, Suwidya tidak bisa memilih perkara yang akan ditanganinya.

Semua perkara selalu dipilihkan Ketua PN berdasarkan hasil diskusi bersama. Saat diberi amanat untuk menyidangkan Akil, tidak ada persiapan khusus yang dilakukannya, apalagi merasa pantas karena telah teruji kompetensinya.

“Saya tidak pernah meminta atau menolak perkara. Akan saya kerjakan sebaik-baiknya dengan segenapnya, kerugian dan keuntungannya. Namun, nggak pernah ada keuntungannya hehehe,” ujarnya disusul gelak tawa.

Suwidya memang dikenal sebagai hakim dengan pembawaan yang jenaka sehingga kerap menghasilkan tawa riuh rendah di di ruang sidang. Ia selalu melontarkan guyon ringan jika suasana sidang terasa mencekam atau jika terasa membosankan. Sulit untuk memastikan apakah itu hanyalah triknya dalam ruang sidang atau benar-benar kepribadiannya yang jenaka.

Berkali-kali dipancing untuk menceritakan pengalamannya menyidangkan Akil, Suwidya juga bergeming. Ia menegaskan, tidak pantas seorang hakim menilai perkara yang ditanganinya sendiri. Apalagi menilai perkara orang lain. Menurutnya, penilaian cukup dilakukan pihak luar dan dirinya akan menerima kritik dan saran.

“Kalau dipandang cakap, saya tidak tahu apakah saya cakap atau tidak, butuh orang lain untuk menilai. Kalau menurut saya sendiri saya ini bagus banget, ganteng, gagah, hahahaha,” candanya yang sekali lagi memantik tawa kami yang lalu terpancing untuk membandingkan ucapannya dengan perawakannya.

Namun, ia mengakui, sebagai hakim yang sudah malang melintang di dunia pemidanaan, menghadapi perkara yang kompleks adalah kesukaannya. Ia merasa tertantang untuk mencapai sasaran persidangan yaitu penyelesaian perkara dengan sebaik-baiknya. Lagi dan lagi, jurus kungfu mundur selangkah maju delapan penjuru mata angin menjadi kuda-kudanya.

Meski ia mendengar dari orang lain tentang desas-desus Akil bakal dihukum seumur hidup, Suwidya memilih untuk berespons “oh begitu” daripada “ oh ya?” yang biasanya bakal dilanjutkan dengan segera mengonfirmasi kebenarannya lewat berita-berita media massa online.

Ia menahan diri untuk tidak membaca pemberitaan tentang Akil hingga sidang selesai. Ini bukan aturan tertulis yang harus dipatuhi semua hakim. Langkah ini diambil Suwidya sebagai bentuk disiplin diri agar dalam menjatuhkan hukuman, ia lepas dari segala pengaruh dan putusan yang ia buat murni berdasarkan kaidah yuridis dan pergumulan batin berdasarkan delapan penjuru angin tadi.

Tak heran, ketika Akil menuduh persidangan terpengaruh pemberitaan di koran karena membaca salah satu koran nasional menulis Akil dihukum seumur hidup padahal sidang belum dilaksanakan, dengan berani Suwidya membantahnya. Dengan ketenangan, Suwidya memberi pengertian kepada Akil bahwa ia tidak seperti yang dituduhkan

“Selama ini saya tidak pernah membaca koran dan tidak menonton televisi agar saya tidak terpengaruh. Kalau saya jelek, biarkan masyarakat yang menilai. Bagus juga begitu. Kalau saya ikuti arus itu, saya terseret nanti,” katanya.

Lagipula, ia melanjutkan, putusan persidangan manapun dibuat berdasarkan musyawarah mufakat antara majelis hakim. Permufakatan ini dimulai dengan menanyai pendapat hakim termuda. Ini langkah yang diambil berdasarkan peraturan perundang-undangan demi tidak terintimidasinya hakim-hakim muda oleh yang tua.

“Jadi saya kan jawab di persidangan, saya tidak berdasarkan berita koran. Saya nggak sidang berdasarkan koran, saya berdasarkan KUHAP. Itu ditegaskan di sidang,” tutur Suwidya.

Menghadapi terdakwa dari yang tak mengerti hukum sama sekali hingga menghadapi terdakwa dan saksi yang profesional, membuatnya pandai memainkan gaya memimpin sidang yang berbeda-beda. Ibaratnya sutradara yang mengarahkan pembuatan film, begitu pula seharusnya hakim di ruang sidang.

Hakim harus menguasai tidak hanya pokok perkara persidangan, tetapi juga suasana sidang dan suasana hati terdakwa, saksi, jaksa penuntut umum, dan pengacara.

“Harus selalu tenteram dalam kesulitan yang dihadapi. Kalau kita nggak tenteram, apalagi yang diadili. Harus arif, bijaksana, priayi, elegan, harus menyejukan, meski bagi orang lain itu berat. Kita nggak musuhi orangnya, tapi perbuatannya. Ini campur-campur seni, wisdom, filosofi,” ucapnya.

Suwidya tidak pernah merasa putusannya bagus, meski ia menyebut putusannya sebagai karya ilmiah, batiniah, dan filosofis. Ini karena, menurutnya, lebih banyak yang melayangkan keberatan ke tingkat pengadilan yang lebih tinggi daripada yang tidak.

“Ya, itu hak dan saya senang karena akan terlihat bagian mana yang disempurnakan,” sahutnya.

Saat ini dia sedang “sabat” dari urusan penanganan perkara. Di masa inilah dia memulihkan kembali tenaga dan pikirannya yang terkuras setelah menangani perkara Akil Mochtar. Dari sorot matanya, tertangkap bagaimana pengalaman menyidangkan Akil membuatnya lebih menunduk seperti halnya padi yang makin berisi.

Habis-habisan Suwidya menghasilkan putusan yang sesuai proporsi kungfu mundur selangkah, maju delapan penjuru mata angin. Kekuatannya saat itu dan bakal terus menjadi penopang untuk mengalahkan kedagingannya yang lemah adalah, “dedikasi dan semangat untuk selesaikan itu sehingga meski tubuh lelah, spirit yang memimpin,” ucapnya yakin.

Sinar Harapan, 17 November 2014

http://sinarharapan.co/news/read/141117036/-div-jurus-kungfu-delapan-penjuru-mata-angin-hakim-suwidya-div-div-div-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s