Be Brave, Sir!

Diambil 1 Agustus 2012 saat sedang buka puasa bersama di ruang Auditorium KPK.
Diambil 1 Agustus 2012 saat sedang buka puasa bersama di ruang Auditorium KPK.

Kamis (23/4) lalu mungkin jadi hari terakhirku bertemu Abraham Samad. Dia masih mengenaliku, wartawan yang dia panggil dinda, wartawan yang selalu berteriak jika bertanya, anggota gerombolan wartawan yang mungkin akan dikenang sepanjang hidupnya karena pernah memaksa semua wartawan untuk membiarkan dia dan teman-temannya berbicara dengan tembok, lalu memilih berbicara di radio yang untuk didengar harus streaming.

Siang itu, aku melihat mobil yang kukenal, apalagi melihat ajudan bertubuh besar duduk di kursi samping supir. Dalam hati bertanya-tanya, apa ada Abraham Samad di dalamnya. Ah, kelihatannya tidak ada kataku dalam hati sambil melongok sedikit dari kaca depan yang transparan. Hingga akhirnya aku melewati jendela penumpang. Jendela itu terbuka tiba-tiba dan wajah Ketua KPK nonaktif itu muncul dengan senyumnya yang ah sudahlah…

Dia memanggilku, “adek!” Astaga, pak Abraham, apa kabar, jawabku. “Baik adek,” katanya sambil menjabat erat tanganku yang dimintanya untuk disalam. “Adek apa kabar?” katanya lagi penuh semangat. Aku baik pak, jawabku. Abis dari mana, aku melanjutkan pertanyaan. “Abis dari sana, dek,” katanya masih dengan tersenyum, tanpa ingin menyebutkan lokasi pasti.

Saat itu juga ingin aku melompat ke dalam mobilnya, berbicara lebih panjang, mewawancara lebih dalam, menggali apa yang saat ini menjadi buah kegelisahan atau mungkin buah kemarahannya pasca ditetapkan sebagai tersangka. Belum sempat aku mengutarakan keinginan untuk bertemu secara khusus, dalam artian hubungan narasumber dan wartawan, mobil melaju kencang. Tangan kami yang ternyata masih berjabatan saat itu terlepas begitu saja, tanpa lambaian tangan.

Hari ini aku mendengar kabar, dia ditahan di Polda Sulselbar. Tak ada lagi kesempatanku bertemu dengannya, tak ada lagi kesempatanku bersenda gurau seperti dulu atau seperti Kamis kemarin. Entah mengapa rasanya sedih mendengar kenyataan ini meski ketika dia masih menjadi manusia bebas, rasanya setiap hari ingin mengkritik tanpa henti.

Kamis itu kami bertemu, meski terlihat tegar terasa benar Abraham Samad tak lagi Abraham Samad yang pernah kukenal selama meliputnya sejak masuk dengan muka canggung ke gedung KPK hingga berdada busung saat mengumumkan Budi Gunawan sebagai tersangka.

Be brave, sir!

Jakarta, 28 April 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s