Truly, Madly, Deeply (Cerita Tentang Karimun Jawa part 1)

Ini merupakan pengalaman pertama saya pergi berlibur berduaan dengan seorang kawan karib. Namanya Novi. Kami pergi ke Karimun Jawa di awal semester kedua tahun 2014 lalu. Awalnya kami ingin pergi ber-8 tapi ternyata yang serius ya cuman kami berdua. Meski pernah pelesir sendirian, saya kurang percaya diri kalau sendirian ke laut. Ini karena saya nggak bisa berenang hahaha.

Perjalanan kita dimulai dari Jakarta, tepatnya di stasiun Senen. Naik kereta kelas ekonomi yang harganya lagi promo. Kita dapet kereta dengan harga nggak lebih dari Rp 250.000 PP untuk 2 orang. Oh ya, kereta ini jurusan Jakarta (Ps. Senen) – Semarang (Poncol). Kita berangkat pagi dan sampai di sana udah siang.

Tadinya kita mau makan di Jepara aja. Tapi entah apa yang bikin kita mampir dulu makan di warteg deket stasiun Poncol. Setelah kenyang, kita naik bus sedang (mirip Kopaja) untuk menuju Terminal Terboyo. Rencananya kita mau naik bis lagi ke Jepara. Perjalanan ke Terboyo sebenernya jauh tapi terasa singkat karena nggak ada macet-macetnya. Beda banget sama di Jakarta.

Sampe di Terboyo, kita sedikit kebingungan nyari bis yang ke Jepara. Sebenernya ada pilihan naik mobil travel, tapi kita mau tekan budget hahaha. Akhirnya ada lah orang, keliatannya kenek gitu, nyeru-nyeruin Jepara!! Kita samperinlah dia, dan ditunjukkin bis mana yang harus dinaikin. Kita duduk di bangku paling depan, samping supir. Maksudnya biar nyaman duduk. Nggak taunya sinar matahari siang itu duluan menyapa kita.

Bis ini nggak ber-AC. Tapi beruntungnya kita nggak ada bapak-bapak perokok yang duduk deket kita. Sampe akhirnya pas udah separuh perjalanan, seorang bapak duduk persis di bangku belakang kita dan merokok. Si Novi padahal udah kasih kode batuk-batuk dan kipas-kipas topi tapi teteuuppp si bapak ngerokok dengan asiknya. Kelakuan penumpang bus umum ternyata masih lebih beretika yang di Jakarta.

10678782_10205076190689567_1109838479327637988_nAkhirnya sekitar jam 4 sore kita nyampe di terminal bus Jepara. Ternyata pelabuhan Kartini udah kita lewatin. Alhasil kita naik becak ke sana. Rp 20.000 ongkosnya yang menurut kami kemahalan karena itu jaraknya nggak terlalu jauh. Tapi karena udah sore dan kita udah capek, ya udahlah gak apa-apa. Sesampainya di kawasan Pelabuhan Kartini, ada sekelompok warga yang lagi lomba panjat pinang, hahaha. Padahal itu udah akhir Agustus.

Awalnya kami nggak mau tidur di penginapan tapi di ruang tunggu pelabuhan aja. Tapi ibu-ibu tempat kita ngaso nawarin kamarnya Rp 100.000 semalem berdua. Murah, kita ambil aja. Abis naro barang-barang, kami coba muter-muter sekeliling pelabuhan Kartini. Karena itu bukan weekend, jadi pengunjungnya agak sepi termasuk ke dalam gedung kura-kura. Sambil nungguin malem, kami pun mencoba menikmati sunset. Indah.

10628407_10205076191169579_4497090423032040836_n

Hari Pertama Karimun Jawa

Abis mandi, saya dan Novi langsung ke pelabuhan buat nyari sarapan dan ketemu sama guide kita yang ganteng abis namanya Alex Simanjuntak. Asli orang batak tapi fasih berbahasa jawa. Kita nyampe sana sekitar jam 7 dan ternyata udah rame banget. Tempat sarapan juga udah rame. Alhasil kami beli bungkus dan makan di ruang tunggu pelabuhan yang relatif lebih sepi. Pas jam keberangkatan, kami pun ketemu 4 orang anggota lain yang pake jasa bang Alex. Mereka semua cowok yang syukurnya lebih caur dan muda dari kita. Lucunya dari mereka yang bisa berenang cuman seorang. Antara saya dan Novi, cuman Novi yang bisa berenang. Udah senang-senang ada cowok-cowok yang bisa kita andelin, ternyata kebalik, hahaha.

Perjalanan 4 jam itu sungguh menyiksa. Kami pakai kapal cepat yang lajunya memabukkan penumpang. Apalagi kami dapat tempat duduk di lambung kapal, hantaman ombak lebih terasa. Saran saya, sebisa mungkin naik ke kapal paling cepat agar bisa duduk di deck supaya kena angin laut yang membantu agar tidak mabuk.

Tempat kami nginap nggak terlalu jauh dari pelabuhan Karimun Jawa. Namanya Rumah Emak. Kalau kalian ngelewatin lokasi bekas SPBU dan nemu rumah tua di dalam situ, nah itulah Rumah Emak. Tempatnya enak karena banyak pohon dan halaman belakangnya luas. Kita makan siang di halaman belakang dinaungi rimbunnya dedaunan pohon. Nggak lupa angin pantai sepoi-sepoi jadi AC alami kita. Nah, kalau malam kita makan di bale-bale samping rumah. Rasanya nggak mau pulang, hehehe.

Bale-bale samping Rumah Emak.
Bale-bale samping Rumah Emak.
Piknik tepi pantai.
Piknik tepi pantai.
Adanya di kamar atas.
Adanya di kamar atas.

Setelah makan siang sembari dengerin penjelasan bang Alex tentang kondisi bawah laut Karimun Jawa dan dasar-dasar snorkeling, kita disuruh ganti baju karena bakal langsung nyobain snorkeling di area Pulau Gosong. Sebagai perempuan yang nggak bisa berenang dan pertama kali snorkeling, rasa takut langsung meliputi padahal itu tinggal loncat. Tapi si bang Alex dan asistennya dengan sigap turun ke air dan berada di dalam situ untuk jagain.

Byurrrr, loncat lah gue dan rasanya menyenangkan! Jadi nyesel kenapa gue gak bisa berenang, hahaha. Untungnya masker yang saya pakai itu ada minusnya, meski cuman minus 4 (saya minus 6 dan 5) tapi lumayan lah, gak burem-burem amat pas ngeliat di dalam. Rasa takut sebelum loncat terbayarkan pas ngeliat alam bawah laut Karimun Jawa. Pengalaman pertama ini membawa saya ingin bisa mahir berenang supaya ke depannya bisa snorkeling lagi ke seluruh wilayah Indonesia, hihihi.

DCIM108GOPRO

DCIM108GOPRO

DCIM108GOPRO

DCIM108GOPRO

Perjalanan dari lokasi snorkeling yang pertama ke Tanjung Gelam nggak begitu lama. Tapi cukup membuat baju basah kering lagi. Di Tanjung Gelam, kita cuman bisa muter-muter pantai sama jajan. Pulau ini sebenanya kosong, tak ada penghuni. Pedagang yang berjualan di situ pun harus pulang sebelum magrib. Oleh bang Alex kami cuma dikasih waktu sejam lah untuk muter-muter dan foto-foto.

Pasir di tempat ini halus sekali. Putihnya kayak bedak bayi tapi masih ada lagi yang lebih putih di Gosong Putih. Untuk itu, cek di blog selanjutnya. Nah, di Tanjung Gelam ini, kita bisa ketemu sama kontras yang cantik antara warna biru dan putih. Banyak lokasi yang bagus untuk dijadiin foto pre-wedding low cost alias pake kamera sendiri dan tripod sendiri, hahaha. Yang bikin nilainya agak berkurang adalah bibir pantai yang kotor karena disinilah para pedagang berjualan.

10614399_10205076199889797_1816851723417847109_n (1)
Salah satu sudut timur di Tanjung Gelam.
DCIM108GOPRO
Foto sambil loncat agar disebut generasi kekinian. 😀
IMG_6612
Papan peringatan menyambut di bibir pantai.
10551064_10205076201209830_6905700467104585697_n
Ini dia sunsetnya. Nggak kalah kan dengan di Bali?

Itu dia perjalanan saya dan Novi di hari pertama. Kita nyampe lagi di pulau Karimun Jawa besar persis ketika matahari terbenam. Malam itu kita dikasih makan kepiting rajung, wohooo! Puas lah makan, lupakan pula diet.

Ini foto-foto yang tersisa:

IMG_6687
Photo session di Tanjung Gelam. Cool, isn’t it?
10665789_10205076233250631_4349360209620285011_n
Udah kedinginan pulang dari Tanjung Gelam.
10678782_10205076230330558_3160631953413842061_n
Sunset di belakang Rumah Emak.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s