Mengenang Masa Lalu (2)

Memang kelihatannya saya dulu sangat nyinyir ketika menulis ficer tentang korupsi. Ini satu lagi tulisan masa lalu yang kental kenyinyirannya.

Bumerang Itu Pulang ke Akil

Chairun Nisa berlindung di balik dekapan seorang pria ketika memasuki ruang tahanan KPK.

Bumerang. Keunikan senjata tradisional milik suku Aborigin di benua Australia ini adalah bisa kembali segera setelah sang pemilik melemparkannya sesuai keinginan hati. Sejauh apa pun dia melesat setelah dilempar, pada satu titik tertentu bumerang akan tetap kembali pada yang melemparkannya.

Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar menerima bumerangnya sendiri. Tidak sedikit ucapannya yang kritis atas pemberantasan korupsi di Indonesia berpulang kepadanya. Bukan hanya klaim efek jera, tetapi juga cibiran kepada pelaku korupsi yang sudah duluan mengalami getirnya penghakiman sosial.

Tahun 2010, Akil yang saat itu masih menjabat sebagai Juru Bicara MK pernah mengatakan, “Ini ide saya, dibandingkan dihukum mati, lebih baik dikombinasi pemiskinan dan memotong salah satu jari tangan koruptor saja cukup.” Kini, saat ia sudah menjadi tersangka, ia marah ketika diingatkan kembali.

Seorang kawan wartawan menyegarkan ingatan Akil ke masa itu di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kamis (3/10) malam. Namun, Akil kelihatan tak senang. Wartawantersebut mengaku Akil langsung mempelototinya saat ditanyai soal “potong jari”. Akil kemudian melayangkan tangan kanannya ke pipi kawan ini. Sebenarnya dia tidak merasa kesakitan, tidak juga merasa ditampar.

Makhluk Ganas

Namun, ekspresi tidak bisa berbohong. Wajah Akil terekam menahan emosi. Wajah sangwartawan meringis antara kaget atau kesakitan. Kemarahannya tidak selesai. Akil terus mengibaskan tangannya saat hendak masuk ke pintu masuk ruang tahanan.

Kepungan juru kamera dengan cahaya sorot yang menyilaukan, menambah kegeramannya. Tangannya yang mengibas itu berubah menjadi rontaan sehingga lampu kilat seorang fotografer harus bergeser dari posisinya. Kepungan itu kemudian menjadi kerumunan karena ada yang memecahnya.

Hakim yang selama ini memiliki citra santun dan mampu mengendalikan emosi seketika berubah menjadi makhluk ganas yang terbangun dari tidur panjangnya. Akil masih canggung dipanggil sebagai tahanan, koruptor, apalagi maling, bukan lagi “yang mulia”.

Kemarahan bukan milik Akil seorang. Bupati Gunung Mas, Kalimantan Tengah Hambit Bintih mengalami hal yang sama. Namun, ia mendahuluinya dengan ketakutan. Hambit terus meletakkan sikutnya di samping kiri dan kanan kepalanya, seolah-olah tanda menyerah.

Sebenarnya, Hambit ingin melindungi wajahnya dari sorotan kamera. Namun, ia tidak berdaya hingga Hambit pun masuk ke dalam mobil tahanan. Dari kaca pengemudi, terlihat Hambit menempelkan wajahnya ke pembatas kabin supir dan kabin penumpang. Ia menenggelamkan wajahnya dengan sikut yang diletakkan di kiri dan kanan kepalanya.

Mobil tahanan sempat melaju sebentar, tetapi mendadak berhenti. Pintu Hambit kemudian dibuka wartawan yang belum sempat mengambil gambarnya. Hambit pun segera menarik gagang pintu dan menutup pintu dengan keras, luapan kemarahan dan ketakutan. Paling tidak terdengar lewat suara saat pintu itu tertutup.

Didekap Pria

Berbeda lagi dengan tersangka Chairun Nisa. Ia memilih berlindung di balik dekapan pria berkemeja biru saat menuju ke mobil tahanan dan ruang tahanan. Pria tersebut diduga suaminya yang memang menjalani pemeriksaan sebagai saksi karena mengendarai mobil yang ditumpangi Chairun Nisa dan Cornelis Nauman menuju rumah Akil.

Chairun Nisa tidak mengucap sepatah kata pun. Dia terus berusaha membenamkan wajahnya di dekapan pria tersebut. Susi Tri Andayani, tanpa ditemani seorang kolega pun, harus menanggung ketakutannya sendirian. Dia sampai tidak mampu menahan kencingnya dan meninggalkan jejak tersebut di tangga lobi KPK.

Cornelis dan Tubagus Chaery Wardhana terlihat lebih santai meski terlihat belum siap menghadapi kejamnya penghakiman sosial. Kini, keenamnya resmi menjadi tersangka. Mereka ditahan untuk 20 hari pertama dan maksimal berada dalam tahanan selama 120 hari sebelum akhirnya menjalani persidangan.

Bumerang Akil bukan hanya soal hukuman potong jari. Di dalam sana, Rutan KPK, dia akan bertemu mantan Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini, bumerangnya yang paling nyata. Entah apa yang akan Rudi sampaikan kepadanya. Seandainya saja Rudi sempat membaca kicau Akil di akun Twitter @akilmochtar yang berbunyi, “Quo Vadis SKK Migas? Menyedihkan… Sekaligus mempermalukan bangsa.”

Dimuat di Sinar Harapan, 4 Oktober 2013.

(http://sinarharapan.co/news/read/25950/bumerang-itu-pulang-ke-akil)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s