Mengenang Masa Lalu

Saat sedang rehat dari urusan menyunting, saya menemukan satu artikel lama yang pernah saya tulis. Terasa sekali ada nuansa nyinyir dan kemarahan di tulisan itu. Apa iya saya pernah segalak ini dulu?

Sekerat Tahu dan Catatan dari Penjara

Andi Mallarangeng minta dibawakan buku karya Pram, Tan Malaka, dan Soekarno.

Inilah enaknya jadi pejabat korup, masih bisa makan enak di sel sempit bawah tanah gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Tahu kakaknya hanya memakan nasi dengan lauk sayur asam dan sekerat tahu, Rizal Mallarangeng lalu membawakan lauk pauk yang biasa disajikan di rumah pada kunjungan keduanya.

Kunjungan pertama setelah mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi Mallarangeng ditahan pada 17 Oktober 2013, membuka mata Rizal bahwa menjadi tahanan tidaklah enak, paling tidak dari sisi makanan. Kakaknya pun menerima uluran tangan sesama tahanan yang membawa sambal agar makanan tidak lagi terasa hambar.

“Makan cuma tahu. Makan nasi dengan sekerat tahu dia ceritakan sambil tertawa dan tidak kelihatan susah. Katanya ada teman yang kasih sambal, saya tidak tahu ada yang bawa sambalnya,” kata Rizal, Jumat (18/10).

Berkaca pada peristiwa itu, pada Senin (21/10), Rizal kembali mengunjungi kakaknya sambil tidak lupa membawa rupa-rupa ikan, sayur, dan sambal sebagai penggugah selera santap. Jika biasanya Andi hanya didatangi adiknya dan pengacara, kali ini istri dan adik perempuannya turut serta. Makan siang pun terasa nikmat karena masih dikelilingi sanak saudara.

Perhatian besar dari keluarga Andi tidak berhenti hanya pada makanan. Tahu kalau dalam rutan tidak ada televisi, surat kabar, dan dilarang membawa gadget mutakhir, buku-buku kesukaan Andi pun dibawakan untuk membunuh rasa bosan di kamarnya. Padahal, Andi tidur dengan dua tersangka lainnya dalam satu kamar.

Bersamaan dengan masuknya Andi ke kamar sel, dua koper jinjing berisikan buku bacaan ikut dibawa masuk. Secara khusus buku Inferno karangan Dan Brown dia minta untuk dibawa. Kemarin, Rizal kembali membawakan sejumlah buku pesanan Andi.

Tak hanya itu, menurut Rizal, kakaknya juga akan menuliskan catatan pribadinya meski belum jelas betul apa topiknya. Paling tidak dia akan membuat nota pembelaan (pledoi) yang akan dibacakan usai jaksa penuntut umum membacakan surat tuntutan.

Bukan tidak mungkin, catatan-catatan itu akan dibukukan. “Nulis catatan, meluangkan waktu lah. Insya Allah, kan ada pledoi yang bisa dibuat jadi buku,” tuturnya.

Melawan Pemerintah

Soekarno, Pramoedya Ananta Toer, dan Tan Malaka adalah sedikit dari banyak tokoh Indonesia yang menulis di balik jeruji. Mereka mendekam di bui karena dianggap melawan pemerintah, bukan karena sangkaan korupsi seperti Andi.

Siapa yang tidak pernah mendengar Tetralogi Buru karya Pram, begitu Pramoedya Ananta Toer dipanggil, saat dibuang ke Pulau Buru. Empat novel berjudul Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca karangan Pram ini menggambarkan secara jelas revolusi Indonesia yang dijajah hingga merdeka.

Begitu pula buku Dari Penjara ke Penjara karya Tan Malaka. Karyanya ini adalah buah pemikirannya yang amat berseberangan dengan ideologi pemerintah. Sama seperti Pram, dari dalam penjara Tan Malaka konsisten mengkritik pemerintah kolonial Belanda dan Indonesia yang masih dipimpin Soekarno.

Soekarno pun melakukan hal yang sama ketika gilirannya tiba mendekam di penjara karena dianggap bertentangan dengan pemerintah yang saat itu berkuasa. Dia menghasilkan pledoi -sama seperti yang akan Andi tuliskan- yang membungkam pengadilan rendah kolonial Belanda di Bandung.

Pledoi yang kemudian dinamakan Indonesia Menggugat ini adalah buah pemikiran dari puluhan buku dan pidato tokoh dunia yang dia lahap saat mendekam di penjara. Dengan tulisannya itu, dia menyudutkan pemerintah kolonial Belanda atas praktik kolonialisme, imperialisme, dan kapitalisme yang telah memiskinkan Indonesia.

Berkaca pada tiga tokoh Indonesia tadi, Andi bahkan tidak memiliki landasan yang sama untuk menyatakan kebenaran dalam peradaban Indonesia. Andi boleh membela diri, tetapi pijakan berdirinya jauh berbeda dengan Soekarno, Pram, maupun Tan Malaka.

Di saat tiga tokoh tadi adalah melawan arus pemerintah yang semena-mena hingga memiskinkan rakyat, Andi justru melawan arus pemerintah yang sedang bergiat memberantas korupsi, penyakit yang memiskinkan rakyat.

Entah apa gagasan pembelaan Andi kelak.

Dimuat di Sinar Harapan, 23 Oktober 2013

(http://sinarharapan.co/index.php/news/read/26880/sekerat-tahu-dan-catatan-dari-penjara.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s