Boyzone Menostalgiakan Kebahagiaan Remaja 90-an

Ronan pun tak kuasa menahan harunya ketika mendengar suara Stephen melantun. Ia sampai dua kali menekan lalu mengusap matanya, tanda air mata sudah siap mengaliri pipi.
“If I ask, would you say yes?” lantun Ronan Keating yang dengan segera mengarahkan microphone-nya ke arah penonton. Koor “yeeessss!” pun membahana. Ronan tersenyum nakal yang kemudian disambut teriakan histeris penggemar perempuannya.

Setelah konser pertamanya pada 1997, Boyzone kembali menghibur penggemarnya dalam konser berjudul “Back Again, No Matter What”. Kesetiaan penggemar menunggu Ronan Keating, Mikey Graham, Keith Duffy, dan Shane Lynch kembali manggung di Jakarta terbayarkan pada Jumat (22/5) malam. Sepanjang 90 menit, mereka menyanyikan 22 lagu yang semuanya mendapat sambutan histeris dari penonton, yang kebanyakan perempuan. Kehisterisan memuncak ketika intro-intro lagu yang populer pada era 1990-an dimainkan.

Tak banyak yang ikut bernyanyi ketika “Hurricane” dilantunkan sebagai lagu pembuka. Tanpa jeda, “Picture of You” langsung memantik teriakan histeris penonton, padahal baru intro lagu yang dimainkan.

Koor dari awal hingga akhir lagu itu membuktikan nostalgia bersama Boyzone adalah hal yang membahagiakan. Lagipula, penggemar mana yang tidak rindu idolanya jika harus menunggu 17 tahun untuk melihatnya langsung dari dekat?

Agar tidak membuat penonton kehilangan mood sampai akhir, urutan lagu disusun sedemikian rupa dari album pertama mereka; Said and Done (1994), A Different Beat (1996), Where We Belong (1998), Brother (2010), hingga ke album terakhir BZ20 (2013). Lagu populer Boyzone, seperti “You Needed Me”, “Word”, “Baby Can I Hold”, “No Matter What”, “Love Me For A Reason”, dan “When You Say Nothing At All” menjadi ajang koor indah. Bahkan, mungkin Ronan, Mikey, Shane, dan Keith akan lebih memilih mendengar kompaknya nyanyian suara penggemarnya.

Para penonton Boyzone boleh dibilang remaja 1990-an yang kini berada dalam rentang usia akhir 20-an hingga akhir 30-an. Meski kehisterisan mewarnai, tak sampai memekakkan telinga seperti konser yang banyak didatangi remaja milenium.

Emosional
Dari semua lagu, tak ada yang bisa menandingi kehisterisan penonton saat “Everyday I Love You” dikumandangkan. Apalagi, sebelum lagu ini dinyanyikan, penonton terhanyut dalam kenangan almarhum Stephen Gately yang meninggal pada 2009.Kumpulan foto dan video ketika Boyzone masih lengkap disajikan dalam bentuk visual sebagai pengantar lagu itu. Itu ditambah ungkapan kerinduan masing-masing personel kepada Stephen yang sudah lebih dulu meninggalkan mereka.Lagu “Everyday I Love You” dijadikan lagu penghormatan untuk Stephen sehingga lirik bagiannya tak digantinyanyikan anggota Boyzone lainnya. Suara rekamannya diperdengarkan sehingga seolah Stephen benar-benar ada dalam ruangan itu.

Bahkan, Ronan sampai mengatakan, “Sejak awal saya merasakan dia ada di sini.” Ia pun tak kuasa menahan harunya ketika mendengar suara Stephen melantun. Ia sampai dua kali menekan lalu mengusap matanya, tanda air mata sudah siap mengaliri pipi.

Bait yang harus ia nyanyikan setelah bagian Stephen pun sampai tak sanggup dilagukannya. Namun, Mikey yang menguatkan lewat tepukan pundak, membangkitkan kembali kekuatannya untuk menyelesaikan bait lirik miliknya itu.

Secara keseluruhan, performa mereka masih terasa enerjik meski tak lagi selincah dulu. Ronan terlihat sudah menenggak air mineral, padahal baru selesai menyanyikan lagu kedua.

Dalam konser yang disponsori Full Color Entertainment ini, Ronan dan kawan-kawan mengenakan setelan jas lengkap berbahan wool. Padahal, suhu Jakarta yang panas tak cocok untuk busana tersebut.

Penampilan mereka yang terlihat serius ini seolah ingin menunjukkan kepada penggemarnya bahwa mereka telah matang, baik dari sisi keindahan suara maupun pemilihan kelas dalam hal penampilan. Namun, bukan berarti punya kelas artinya dilarang “menggila” seperti ketika masih remaja. Keempatnya mengajak penonton jejingkrakan menikmati lagu “Life Is a Rollercoaster”” sebagai penutup.

Kembali koor membahana, mengembalikan keceriaan masa remaja 1990-an dan mengukuhkan nostalgia sebagai kegiatan yang menggembirakan. Life is a rollercoaster, you just got to ride it!

Dimuat di Sinar Harapan, 23 Mei 2015 (http://www.sinarharapan.co/news/read/150523010/boyzone-menostalgiakan-kebahagiaan-remaja-90-an)

Photo Courtesy: Antara Foto/Agoes Rudianto

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s