Bersabarlah, Daging!

Detik-detik menjelang saat itu, rasanya ingin aku berlari. Tak pernah muncul dalam benakku untuk berada dalam dekapan seorang pria, yang bukan bapakku. Aku tak tahu harus bersikap bagaimana.

Itu kata hati. Itulah roh.

Bayangan itu makin menguat. Bahkan seperti kenyataan hingga membuat jantungku berdegup tak seperti biasanya. Bagian yang tersembunyi pun berdenyut. Dia suka. Dia menantikan saat itu. Aku melihat diriku dalam dekapannya. Erat. Sampai-sampai bibir kami bersentuhan.

Itu kata pikiran. Itulah daging.

Hari yang dinanti pun tiba. Apa yang hati inginkan kalah daripada yang daging impikan. Namun hati tak pernah rela dibuang, dia tetap hadir.

Aku meraih lengannya dalam dingin. Mendekapnya erat dengan kedua tanganku. Sesekali memasukkan jemariku ke kantong bajunya. Hangat. Kami makin merapat. Dia yang tersembunyi berdenyut senang. Tahan, hei, kata hatiku.

Matahari meninggi. Bukannya melemah dekapan itu. Tanganku tak ingin melepaskannya. Tubuhku malah ingin merasakan hangat yang sudah lebih dulu dirasa jemariku. Kesempatan itu ada. Tubuh kami bertemu. Erat meski hanya sesaat.

Pertama, dadaku dengan punggungnya. Kedua, dadanya dengan punggungku. Tangannya pun merangkul pinggangku. Aku pasrah merebahkan tubuhku. Lagi dan lagi, hanya sesaat. Tapi aku puas.

Pagi ingin beranjak, dan pelindung tubuh kami menipis. Aku sudah mengenali tarikan nafasnya. Seirama dengan nafasku. Ah, indah sekali.

Aku paling suka ketika lengannya mendekap pinggangku. Ketika tangannya terus menjangkau tanganku. Saat itu aku tahu dia menginginkanku. Dan aku tahu tak bakal melepaskannya ketika lengan ini terus merangkul bahunya, menyambut setiap uluran tangannya, dan ketika pipinya menempeli pipiku.

Daging hampir saja menang. Aku beruntung memiliki hati yang tak pernah mau diabaikan. Jika tidak, mungkin dosa paling utama itu sudah kami, yang berdosa ini, bawa pulang.

Sejak saat itu, aku merindukannya. Aku ingin terus dalam pelukannya. Aku ingin bertemu muka dan muka, menarik tangannya di atas pinggulku dan aku merangkul lehernya, dada kami bertemu sehingga kami dapat mendengar betapa seiramanya denyut jantung kami sebagaimana tarikan nafas kami.

Ah betapa indahnya proses menjadi satu tubuh itu. Sabarlah, daging. Jangan dukakan Dia yang merajai hati. Dia memperhatikan, Dia mendengar. Sebentar lagi, daging. Bersabarlah.

Depok, 22 September 2015

Tabik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s