When two become one. Premiere.

image

Ersinget-singet/Nehken kata.

Entah stage apa kalau dalam bahasa Indonesia persiapan pernikahan ini. Bagi kami orang Karo, ini adalah tahap awal antara dua keluarga pria dan wanita yang memutuskan untuk menikah. Dalam acara ini, keluarga pihak laki-laki—diwakili anak berunya (pemberi suami) sebagai juru bicara—menyampaikan niat untuk meminang anak perempuan di rumah itu. Ya, acara ini diadakan di rumah perempuan yang ingin dinikahi.

Isi pertemuan ini sangat sederhana, yaitu menyatakan keseriusan si pria untuk mengajak menikah si perempuan. Perempuan ini nantinya ditanya, yang mana orangnya dan bener kaan mau kawin sama dia? Kalau yang laki-laki ditanyanya, udah sungguh-sungguh kan? Kalau dua-duanya menjawab hal positif, acara akan dilanjutkan ke tahap selanjutnya yaitu maba belo selambar (bawa daun belo (sirih) selembar). Tahapan ini mengundang lebih banyak keluarga yang inti acaranya tidak jauh beda dengan acara ini.

Tanggal 25 Oktober 2015 adalah momen kami ersinget-singet/nehken kata. Alurnya cukup lucu karena anak beru pihak perempuan merespon pertanyaan kapan bisa kita lakukan acara pinangan dengan mengheningkan cipta. Mengapa? Karena menurut anak beru itu untuk mencari waktu yang tepat dan jawaban yang tepat harus didahului dengan bertanya kepada Tuhan. Padahal sebenarnya sudah ada tanggal-tanggal yang ditentukan. Namun, inilah gayanya agar acara sedikit menarik.

Drama? No.

Lawak? Maybe. 😀

Tapi sesungguhnya begitulah dilakukan agar acara tidak terkesan monoton dan  tata karma adat berlangsung dengan baik.

Dia ditanya, “ma nggo tutus atendu?” — ‘hatimu sudah sungguh-sungguh kan?”

“100 persen,” jawab dia.

Jawaban itu mengingatkanku akan masa-masa dimana pertanyaan “kenapa mau kawinin aku padahal sudah aku inikan, itukan (dikerjain gak ketulungan–red)”. Kebanyakan dia hanya menjawab dengan senyum atau jawaban yang itu-itu saja sampai akhirnya dia pun mempertanyakan balik kenapa aku suka menanyakan hal itu. Gambar di atas paling tidak mewakili jawabannya. Dan permintaannya.

Akhir kata, satu tahap telah terlewati. Kalaupun tahapan-tahapan ini nanti selesai, bukan berarti bisa lega. Justru akhir dari tahap itulah awal dari segalanya.

#JDerdemubayu

Tabik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s