2015, Tahun Keruntuhan?

Per 31 Desember 2015, Sinar Harapan, surat kabar tempatku bekerja selama 67 bulan bakal tutup. Penutupan ini bukan gelegar bagiku karena sudah sejak lama aku dan kawan-kawan menyadari surat kabar tertua di negeri ini bakal ditutup. Tapi tak menyangka bakal sedekat dan seekstrim ini karena awalnya sempat ada harapan kalau pemberitaan online akan tetap dipertahankan. Nyatanya tidak.

Terlepas dari segala intrik dan politik kantor di dalamnya, hal yang perlu diketahui orang banyak adalah bagaimana industri surat kabar benar-benar sedang koma. Sinar Harapan yang terbit kembali tahun 2001—setelah dibredel tahun 1986—akhirnya harus tutup setelah 14 tahun terbit. Persoalannya klasik: merugi dan kalah saing dalam industri media massa yang sedang bergerak ke arah digitalisasi.

Pasca pergantian presiden tahun 2014 kemarin, Koran Jurnal Nasional menjadi surat kabar pertama yang harus gulung tikar. Ini bukan hal yang menggegerkan karena koran itu memang diterbitkan mengingat Partai Demokrat menjadi penguasa negeri ini 10 tahun terakhir. Ya, Jurnas—begitu Jurnal Nasional disingkat—adalah koran corong penguasa saat itu. Ketika Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak lagi memerintah, sudah selesai kebutuhan partai tersebut atas pemberitaan yang positif.

Setelah Jurnas, boleh dibilang Sinar Harapan menyusul. Soalnya, saya tidak mendengar media massa cetak lain yang ditutup di antara penutupan keduanya. Bloomberg TV menjadi televisi pertama yang saya dengar ditutup dan teman-teman di sana tidak menerima gaji selama 3 bulan serta tak diberi pesangon sesuai ketentuan undang-undang. Miris. Padahal Bloomberg bukan nama baru di dunia industri media.

Koran Tempo, menurut pengakuan teman-teman, juga sedang menuju masa penghentian. Saat ini, halaman regular mereka dikurangi dan tidak terbit di hari minggu. Edisi Minggu diganti menjadi edisi akhir pekan (Sabtu-Minggu). Yang terakhir adalah kabar ada rasionalisasi di grup Berita Satu. Teman saya kena dampaknya. Beruntung dia masih muda sehingga masih banyak peluang untuk mencari kerjaan baru.

Konon, ada 6 media massa lain (terutama media massa cetak) yang sedang menuju akhir hidupnya. Kabar burung menyebutkan, oplah Harian Kompas—harian terbesar di Indonesia—tinggal 70 ribu eksemplar. Mengerikan!

Kenyataan ini sebetulnya sudah lama dialami media massa di Amerika Serikat (AS). Kenapa AS, karena negara inilah kiblat penerbitan media massa. Membaca blog wartawan Kompas, Robert Adhi Ksp, sejak tahun 2008, lebih dari 166 surat kabar di AS ditutup atau menghentikan penerbitan edisi cetaknya, menurut Paper Cuts, situs yang khusus mencatat penurunan industri media di AS.

Lebih dari 39 media cetak ditutup pada tahun 2008, dan kemudian 109 pada tahun 2009. Pada tahun 2010, lebih dari 18 media cetak ditutup. Sejak Maret 2007, lebih dari 35.000 pekerja media kehilangan pekerjaan (Guardian.co.uk, 6 Juli 2010).

Biro Audit Sirkulasi ABC pada tahun 2010 merilis data, oplah koran di Amerika mengalami penurunan yang signifikan. USA Today mengalami penurunan oplah 13,58 persen menjadi 1,83 juta eksemplar per hari, Los Angeles Times turun 14,74 persen (616.606 eksemplar per hari), The Washington Post turun 13,06 persen (578.482 eksemplar per hari), dan The New York Times turun 8,47 persen (951.063 eksemplar per hari).

Masa keemasan media massa cetak rasanya sudah lama berakhir namun nikmatnya terlalu membuai sehingga mereka yang di dalamnya terlena dan lupa bergegas menyamai zaman. Sekarang, pelaku industri media massa—terutama cetak—pontang-panting menghadapinya, termasuk saya.

Sejak kuliah, saya meyakini media massa cetak selalu menjadi penghulu dari segala generasi media massa. Ya memang, tapi baru belakangan saya tersadar kepongahan itu benar-benar menghancurkan.

Teknologi tak boleh diremehkan karena ternyata manusia generasi ini lebih suka terbawa arus daripada menentukan arusnya sendiri. Para pelaku industri media harus rela terhadap itu. Idealisme akhirnya hanya laku di bangku kuliah. Sigh.

Advertisements

One thought on “2015, Tahun Keruntuhan?

  1. Pingback: MEDIA CETAK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s