Karena Bekerja dan Berkeluarga Sama Pentingnya

Seorang teman, pria, pernah menceritakan pergumulan hidupnya tentang memilih antara keluarga dan pekerjaan. Teman saya ini bekerja sebagai petugas pajak yang sepanjang hidupnya harus berhadapan dengan mutasi ke berbagai daerah. Istrinya, bekerja di instansi yang sama, ditempatkan di kantor pusat sehingga akan tetap berada di Jakarta.

Saya tidak ingat pasti apa yang menyebabkan keduanya tetap harus bekerja, tak ada yang rela untuk mengundurkan diri. Yang pasti, keduanya berupaya tetap untuk bekerja namun mencari jalan untuk bisa tinggal bersama-sama, tidak terpisah-pisah seperti yang saat itu dialaminya. Waktu terlewati dan harapan mereka tercapai; teman saya ditempatkan di Jakarta hingga sekarang.

Pengalaman yang dia bagikan itu saya anggap biasa saja. Ya mau bagaimana lagi, manusia butuh bekerja entah uang ataupun eksistensi diri motivasinya. Namun, ketika menikah, saya mengalaminya dan itu bukan hal yang biasa-biasa saja. Pantas saya teman saya itu bercerita dengan amat dalam karena memang tidak mudah memutuskan untuk bekerja atau tidak bekerja. Kalaupun tetap bekerja, apa yang diutamakan, keluarga atau jenjang karir.

Setelah menikah, saya menganggur. Sudah satu bulan dan hati ini amat gelisah karena menginginkan pekerjaan, ingin keluar rumah untuk berinteraksi dan mengaktualisasikan diri. Saya bukan tipe wanita yang betah di rumah jika tak ada yang harus dikerjakan, kecuali memang untuk cuti beristirahat.

Diri ini memberontak, bertanya-tanya, mengapa suamiku tak mengizinkanku bekerja di perusahaan x yang sudah berulang kali meminta untuk segera masuk. Dia menahan saya untuk bersabar menunggu kepastian perusahaan y yang lokasinya lebih dekat dengan rumah. Saya pun menurut setelah melewati diskusi yang panjang.

Bagi saya yang terbiasa memikirkan karir saya, mengalihkan fokus kehidupan pada keberlangsungan keluarga tidaklah mudah. Saya berpasangan dengan pria yang menginginkan keutuhan rumah tangga namun tidak ingin melihat saya sedih karena tidak bekerja. Dia merelakan saya bekerja dengan syarat.

Syaratnya gampang-gampang susah. Dia meminta agar saya memilih pekerjaan yang sesuai passion saya namun keutuhan rumah tangga tetap terjaga. Awalnya saya pikir ini amat mudah. Namun ketika cukup lama “libur” dari dunia jurnalistik, saya makin melihat itu tidak mudah.

Setiap hari, ketika “libur”, rumah kami tertata dengan baik, kami pun masih bisa makan masakan sendiri, dan kami banyak tertawa dan bercengkrama.

Saya kemudian membayangkan, tugas jurnalistik lama saya digabung dengan kegiatan “libur” saya ini. Saya pun tersentak. Apa bisa? Kalaupun bisa, apa saya masih bisa dengan hati yang penuh sukacita melayani suami saya. Yang ada mungkin capek saja. Suami saya memang sangat penyabar, tapi seberapa jauh kesabaran suami yang tidak mendapat perhatian istrinya. Saya takut membayangkannya.

Kerenggangan hubungan suami istri karena pekerjaan memang belum saya rasakan. Namun, pengalaman yang pernah dibagikan teman pria saya itu makin menguatkan saya untuk tetap bersabar. Siapa bilang kita tidak bisa dapat semuanya; pekerjaan dan hubungan suami istri yang harmonis?

Seperti halnya teman saya itu, yang bertahan, bersabar, berulang kali berdoa dan menantikan jawaban, begitulah pula seharusnya saya. Seperti halnya teman saya itu yang harapannya terkabul, doanya terjawab, begitulah pula saya nantinya.

God and God Alone!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s