A Grateful Perfectionist

Menjadi wanita yang tidak bekerja kantoran dari yang tadinya workaholic dan tak ingat kehidupan pribadi adalah hal yang sangat berat. Berat sekali. Awalnya terasa menyenangkan karena terasa seperti istirahat panjang namun makin hari makin terasa menakutkan karena muncul perasaan tidak berguna lagi dan terbuang.

Hari demi hari dilalui dengan perjuangan untuk membuang semua pikiran negatif itu dan perjuangan untuk meyakini bahwa diri ini masih berguna untuk mengerjakan peran sebagai ibu rumah tangga sekaligus home-working-mom (karena di rumah memang masih bekerja menulis dan mengedit tulisan untuk sinarharapan.net namun kualitas dan kuantitasnya tak lagi sama, cenderung menurun).

Selalu sempurna di dunia kerja sebelumnya lalu menjadi teramat bodoh di urusan rumah tangga yang tadinya tampak sepele di mata seorang gadis workaholic, amatlah menyakitkan. Tidak seperti mengedit tulisan yang tools-nya amat saya kenal dan kuasai yang bisa dipergunakan maksimal agar tampak indah dan enak dibaca, memasak adalah hal yang menyulitkan.

Coba bayangkan bagaimana mengakali perkedel yang terburai agar tetap bisa dimakan dan tampak indah disajikan di piring? Seorang perfeksionis akan jatuh mentalnya jika tidak berhasil menanggulangi masalah ini. So am I.

Hal yang terus menerus dipikirkan adalah, I want my life back! This is so bad, I just want to go back. Tapi tidak bisa. Hidup itu berjalan ke depan, menghadapi sesuatu yang tidak kita bisa bayangkan sebelumnya. Memilih antara A atau B atau bahkan tidak keduanya.

Marriage pull me out from my comfort zone!

Pada akhirnya saya belajar, meski baru sedikit: I have to change. Perfection is good but let your imperfection make you a grateful perfectionist. Saya belajar menerima segala kekurangan saya di urusan dapur dan rumah dan belajar untuk memperbaikinya dan memakai akal kepintaran saya untuk menanggulangi hal yang tadinya saya anggap remeh ini.

Kehamilan yang sudah memasuki bulan ke-6 ini menambah-nambah si “marriage-pull-me-out-from-my-comfort-zone!” Standar kebersihan dan kerapihan saya jadi menurun karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan untuk tetap pada level yang sama. Again and again the “perfection is good but let your imperfection make you a grateful perfectionist” slogan bomb my mind.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s