10 Hari Pertama Aku dan Dia

4 Januari 2017 adalah hari bersejarah dalam hidup saya. Memulai hari dengan ukuran perut yang masih buncit dan bergandengan tangan mesra dengan suami, kami berdua menuju rumah bersalin. Di penghujung hari, perut saya menyusut ukurannya dan hadirlah sang bayi yang sudah 9 bulan berada di rahim saya.

Momen hari itu sangat-sangat cepat bagi saya. Meski sadar sesadar-sadarnya akan melahirkan, ternyata saya tak siap mengalami perubahan detik demi detik di hari itu. 

Bukan, saya tidak mengalami baby blues. Saya hanya mengalami rasa kaget yang baru. Rasanya mungkin sama dengan momen dimana di pagi hari kita masih bertemu orang yang kita kasihi namun malamnya dia pergi untuk selama-lamanya. 

Perubahan besar yang amat cepat ini membuat saya sempat berkali-kali menumpahkan air mata saya kepada suami. Rasa bahagia, sakit, bingung, campur jadi satu. 

Satu hal yang selalu muncul dalam pikiran saya: saya ingin kembali ke masa-masa hamil dimana saya masih bisa bergandengan tangan berdua dengan suami saya kemana saja, saling memijat dan tertawa berdua sebelum tidur, sampai bangun pagi lalu berjalan keliling kompleks untuk berolahraga. Indahnya, pikir saya.

Sekarang, saya tak lagi bisa hanya memikirkan aku dan suamiku. Sekarang yang dipikirkan adalah bayiku, bayiku, bayiku. Aku dan suamiku adalah nomor sekian. 

Tidak mudah memang berada dalam situasi yang berubah drastis itu. Sepuluh hari pertamaku penuh tangis rahasia yang hanya aku yang tahu, dan beberapa diketahui suamiku.

Sepuluh hari pertama ini saya belajar menjadi seseorang yang baru, yang berani keluar dari zona nyaman kehamilan dan yang berani untuk tidak khawatir lagi melainkan memenuhi diri dengan ucapan syukur. 

Sepuluh hari pertama ini saya juga belajar menanggalkan karakter kemandirian saya (bahwa saya bisa melakukan apa saja tanpa bantuan orang lain) untuk rela dibantu orang lain dan memahami bahwa orang lain pun butuh bantuan kita. 

Terakhir, di sepuluh hari pertama saya ini saya disadarkan oleh Firman Tuhan bahwa barangsiapa yang kehilangan dirinya, akan mendapatkannya. 

“…whoever loses their life for my sake will find it.” (Matthew 10:39)

Inilah janji yang akan selalu saya pegang. Semenjak awal pernikahan, impian saya satu persatu terkubur. Semua pintu tertutup dan yang saya tahu, kehamilan (dan akhirnya anak saya) inilah jawabannya. 

Membiarkan Tuhan mengendalikan kembali hidup saya, itulah yang saat ini sedang Ia inginkan. Tidak mudah, jelas. Namanya juga pengendalian, ya tidak mudah. Namun, hari demi hari, harapan saya, janji itu menjadi nyata.
Rumah Citarum, 15 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s